Pernah denger istilah cash flow per share atau arus kas per saham? Mungkin istilah ini agak asing ya, terutama buat kamu yang baru mulai terjun ke dunia investasi saham.
Baca Juga: 7 Cara Melacak Kartu ATM yang Hilang
Tapi, jangan khawatir, sebenarnya konsep ini nggak serumit kedengarannya kok. Justru, cash flow per share ini penting banget buat kamu pahami kalau mau jadi investor saham yang cerdas.
Apa Itu Cash Flow Per Share?
Secara sederhana, cash flow per share adalah jumlah cash flow atau arus kas bersih yang dihasilkan perusahaan dibagi dengan jumlah saham yang beredar.
Jadi, konsepnya hampir mirip dengan laba per saham (earnings per share atau EPS), tapi yang dilihat bukan laba bersih melainkan arus kas.
Arus kas yang dimaksud adalah uang yang benar-benar masuk dan keluar dari perusahaan selama periode tertentu.
Cash flow per share dihitung dengan rumus sebagai berikut:

CFPS= Jumlah Saham yang Beredar : Arus Kas Operasional Bersih
Nah, apa bedanya dengan EPS? Kalau EPS melihat berapa besar keuntungan yang bisa dihasilkan per saham, CFPS lebih fokus pada seberapa banyak uang tunai yang tersedia.
Ini bisa jadi lebih menarik, terutama buat investor yang ingin tahu apakah perusahaan punya cukup uang untuk membayar dividen atau melanjutkan proyek bisnis tanpa harus meminjam.
Kenapa Cash Flow Per Share Penting?
CFPS memberikan informasi yang lebih “real” tentang kondisi keuangan perusahaan. Ada banyak kasus di mana perusahaan melaporkan laba besar di laporan laba-rugi, tapi ternyata arus kasnya justru negatif.
Mungkin kamu berpikir, “Kok bisa?” Ya, laba bersih itu bisa dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti depresiasi aset atau penjualan kredit. Tapi arus kas, terutama dari operasi, memberi tahu kita tentang uang tunai nyata yang masuk.
Selain itu, CFPS juga memberikan gambaran tentang kemampuan perusahaan untuk menjaga kesehatan finansialnya tanpa terlalu bergantung pada hutang.
Jadi, kalau kamu ingin tahu apakah perusahaan bisa bertahan jangka panjang atau tidak, melihat CFPS bisa jadi indikator yang sangat berguna.
Fungsi Cash Flow Per Share (CFPS)
Nah, di bagian ini, kita bakal bahas lebih dalam fungsi-fungsi CFPS, biar kamu makin jago menganalisis saham.
1. Mengukur Kemampuan Perusahaan Menghasilkan Kas Riil
Ini fungsi utama CFPS, dan udah kita singgung sebelumnya. CFPS itu kayak ‘indikator kejujuran’ keuangan perusahaan. Laba bersih di laporan laba rugi itu angka akuntansi yang bisa dipengaruhi banyak faktor non-kas. Tapi, cash flow? Itu duit tunai beneran yang masuk dan keluar dari perusahaan.
Dengan melihat CFPS, kamu bisa nilai seberapa efektif perusahaan dalam menghasilkan kas dari bisnis intinya.
Perusahaan yang CFPS-nya tinggi dan stabil, artinya bisnisnya sehat dan menghasilkan uang tunai yang cukup buat operasional dan pengembangan. Ini penting banget buat keberlangsungan hidup perusahaan jangka panjang.
2. Memprediksi Kemampuan Bayar Dividen
Sebagai investor saham, pasti kamu ngincer dividen kan? Nah, CFPS ini bisa jadi petunjuk awal apakah perusahaan mampu bagiin dividen atau nggak. Perusahaan yang cash flow-nya kuat, punya potensi lebih besar buat rutin bagiin dividen ke pemegang saham.
Tapi, ingat ya, CFPS bukan satu-satunya faktor penentu dividen. Kebijakan dividen perusahaan juga dipengaruhi faktor lain kayak rencana investasi, kebutuhan dana ekspansi, dan kondisi ekonomi. CFPS cuma salah satu puzzle dalam analisis dividen.
3. Menilai Valuasi Saham dengan Lebih Akurat
Beberapa analis keuangan percaya kalau CFPS itu metrik valuasi yang lebih baik daripada EPS. Kenapa? Karena CFPS lebih mencerminkan cash flow riil perusahaan.
Ada beberapa model valuasi saham yang menggunakan CFPS sebagai dasar perhitungan, contohnya model Discounted Cash Flow (DCF).
Dengan menggunakan CFPS dalam valuasi, kamu bisa dapat gambaran nilai intrinsik saham yang lebih akurat, yang nggak terlalu dipengaruhi trik akuntansi non-kas. Ini penting buat kamu yang mau investasi jangka panjang dan cari saham yang undervalued atau overvalued.
4. Mendeteksi Potensi Masalah Keuangan Lebih Awal
Cash flow yang bermasalah bisa jadi sinyal peringatan dini adanya masalah keuangan di perusahaan. Misalnya, CFPS yang terus menurun, atau bahkan negatif, bisa jadi indikasi perusahaan kesulitan menghasilkan kas dari operasi bisnisnya.
Ini bisa jadi karena penjualan menurun, biaya operasional membengkak, atau masalah pengelolaan utang.
Dengan memantau CFPS secara berkala, kamu bisa lebih waspada terhadap potensi risiko keuangan perusahaan. Kalau ada tanda-tanda cash flow memburuk, kamu bisa lebih hati-hati dalam berinvestasi atau bahkan mempertimbangkan untuk mengurangi posisi saham di perusahaan tersebut.
5. Membandingkan Perusahaan dengan Lebih Apple-to-Apple
Seperti yang udah dibahas sebelumnya, CFPS itu lebih reliable dibanding EPS karena nggak terlalu dipengaruhi perbedaan metode akuntansi antar perusahaan. Ini bikin CFPS lebih cocok buat membandingkan kinerja keuangan perusahaan sejenis, terutama yang ada di industri yang sama.
Misalnya, kamu mau bandingin dua perusahaan e-commerce. Dengan melihat CFPS mereka, kamu bisa dapat gambaran yang lebih fair tentang mana perusahaan yang lebih efisien dalam menghasilkan kas dari operasional e-commerce-nya, tanpa terlalu terpengaruh perbedaan kebijakan akuntansi depresiasi atau amortisasi.
Bagaimana Cara Menggunakan CFPS dalam Analisis Saham?
Menggunakan CFPS bisa sangat membantu saat kamu membandingkan dua perusahaan atau lebih dalam industri yang sama.
Misalnya, kamu ingin tahu mana yang lebih baik, Perusahaan A atau Perusahaan B. Keduanya mungkin terlihat memiliki EPS yang hampir sama, tapi ketika kamu melihat CFPS, bisa jadi ada perbedaan yang signifikan.
Jika salah satu perusahaan memiliki CFPS yang jauh lebih rendah, itu bisa jadi tanda bahwa perusahaan tersebut mungkin kesulitan menghasilkan uang tunai meskipun terlihat untung di atas kertas.
Sebaliknya, perusahaan dengan CFPS yang kuat biasanya lebih stabil karena mereka benar-benar punya uang tunai yang cukup untuk beroperasi atau membayar dividen kepada pemegang saham.
Bagaimana Menghitung CFPS?
Untuk menghitung CFPS, kamu hanya memerlukan dua hal: laporan arus kas dan jumlah saham beredar.
Kamu bisa menemukan informasi arus kas ini di bagian laporan keuangan perusahaan, biasanya di bagian “Arus Kas dari Aktivitas Operasi”. Lalu, bagi arus kas bersih dari operasi ini dengan jumlah saham yang beredar, dan kamu akan mendapatkan CFPS.
Sebagai contoh sederhana, anggap perusahaan XYZ memiliki arus kas operasional bersih sebesar Rp 500 miliar dan jumlah saham beredar sebanyak 1 miliar saham. Maka CFPS perusahaan ini adalah:
CFPS: 1.000.000.000/500.000.000.000 = Rp500
Artinya, untuk setiap saham yang kamu miliki, perusahaan menghasilkan arus kas sebesar Rp 500.
Baca Juga: 5 Cara Daftar RHB Sekuritas dengan Mudah
Kesimpulan
Cash flow per share adalah alat yang sangat berguna bagi investor untuk melihat seberapa baik perusahaan menghasilkan uang tunai yang nyata. Dibandingkan hanya melihat EPS, CFPS menawarkan pandangan yang lebih jelas tentang kesehatan finansial suatu perusahaan.
Namun, ingatlah untuk selalu mempertimbangkan rasio ini bersama dengan metrik lain agar analisis kamu lebih komprehensif.
Dengan memahami CFPS, kamu bisa lebih jeli dalam memilih saham yang memiliki potensi jangka panjang dan stabilitas keuangan yang baik. Jadi, saat kamu melihat laporan keuangan berikutnya, jangan lupa untuk mengecek cash flow per share-nya!



