Kekurangan Asuransi Syariah – Pernah kepikiran buat pindah ke asuransi syariah karena prinsip bagi hasil dan bebas riba? Tapi, sebelum memutuskan, ada baiknya kamu pahami dulu sisi kekurangan asuransi syariah ketimbang asuransi konvensional pada umumnya. 

Meski punya keunggulan dari segi prinsip Islami, asuransi syariah ternyata nggak selalu cocok untuk semua kebutuhan. 

Yuk, kita kupas tuntas dimana letak kekurangan asuransi syariah dibanding asuransi konvensional!

Baca Juga: 10 Bank Asing Terbaik di Indonesia Paling Populer

Apa Itu Asuransi Syariah?

Source: Pexels

Nah, sebelum temen-temen menilai kekurangan asuransi syariah, penting banget buat paham dulu apa itu asuransi syariah secara konsep. Jadi, asuransi syariah adalah sistem perlindungan berbasis syariah Islam yang mengedepankan prinsip tolong-menolong (ta’awun) dan tanggung jawab bersama (takaful) antar peserta.

Bedanya dengan asuransi konvensional, di asuransi syariah, kamu bukan beli proteksi dari perusahaan asuransi, tapi kamu ikut urunan atau patungan bersama peserta lainnya dalam satu wadah yang disebut Dana Tabarru’. Dana inilah yang nantinya akan digunakan untuk membayar klaim peserta lain yang mengalami musibah atau risiko tertentu.

Perusahaan asuransi syariah dalam hal ini hanya berperan sebagai pengelola dana. Mereka nggak ambil keuntungan dari dana risiko itu. Sebagai gantinya, perusahaan ambil ujrah alias fee atas jasa pengelolaan dana peserta. Jadi nggak ada istilah riba, gharar (ketidakpastian), atau maysir (judi) yang dilarang dalam Islam.

Sistem ini diawasi langsung oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS), jadi setiap produk dan aktivitasnya harus sesuai dengan prinsip syariah. Makanya nggak semua investasi bisa dipakai, cuma yang halal aja kayak sukuk, saham syariah, atau reksa dana syariah.

Kekurangan Asuransi Syariah Dibanding Konvensional

Berikut penjelasan lengkap mengenai kekurangan asuransi syariah ketimbang asuransi konvensional secara mendalam.

1. Pilihan Produk Masih Terbatas

Yup, dibandingkan asuransi konvensional, kekurangan asuransi syariah masih belum sebanyak itu. Pilihan seperti asuransi unit link, asuransi penyakit kritis, bahkan produk rider tambahan masih lebih variatif di konvensional. Hal ini bisa jadi kendala kalau kamu punya kebutuhan yang sangat spesifik.

Misalnya, kamu pengin asuransi yang cover risiko kesehatan dengan benefit cashless di rumah sakit luar negeri, nggak semua asuransi syariah punya opsi itu. Karena model bisnis mereka yang konservatif, pengembangan produknya juga lebih hati-hati dan lambat.

2. Imbal Hasil (Return) Cenderung Lebih Rendah

Kalau kamu mengambil produk asuransi jiwa yang dikombinasikan dengan investasi (unit link), perlu diperhatikan bahwa hasil investasi pada asuransi syariah cenderung lebih konservatif.

Kenapa? Karena dana yang terkumpul cuma bisa diinvestasikan di instrumen yang halal alias sesuai prinsip syariah nggak boleh masuk ke saham bank konvensional, rokok, alkohol, dan lain-lain.

Hal ini bikin portofolionya lebih terbatas, dan secara logika investasi, makin sempit ruang geraknya, makin terbatas pula potensi return-nya. Jadi, buat kamu yang targetnya adalah proteksi sekaligus cuan maksimal, mimin rasa perlu pikir dua kali.

3. Kurang Familiar untuk Masyarakat Umum

Ini jujur aja. Banyak masyarakat yang masih belum ngerti konsep risk sharing dalam asuransi syariah. Akibatnya, waktu dijelasin soal konsep tabarru’ (dana tolong-menolong) dan akad wakalah bil ujrah, banyak yang bingung bahkan salah kaprah.

Bahkan ada yang salah paham, dikira kalau nggak klaim, dana mereka bakal balik 100% karena “kan ini tolong-menolong, bukan cari untung”. Padahal tetap aja ada biaya operasional dan ujrah (fee untuk pengelola). Jadi sering muncul kekecewaan karena ekspektasi awalnya nggak realistis.

4. Benefit Cashless dan Jaringan Rumah Sakit Masih Kurang Merata

Fitur cashless emang jadi andalan banyak orang sekarang, karena praktis banget pas ke rumah sakit. Tapi nggak semua asuransi syariah punya kerja sama luas dengan rumah sakit buat sistem cashless, terutama di daerah. Sering kejadian nasabah akhirnya harus reimbursement, padahal niat awalnya pengin yang gampang.

Nah, hal ini bisa jadi repot banget terutama kalau kamu tinggal di luar kota besar. Nggak semua rumah sakit ngerti prosedur asuransi syariah, jadi mereka prefer cash atau reimbursement manual.

5. Kepastian Hukum dan Regulasi Masih Berkembang

Walaupun OJK udah bikin payung hukum yang jelas buat industri asuransi syariah, tapi kenyataannya implementasi di lapangan belum sekuat asuransi konvensional. Ada kasus di mana penanganan klaim syariah agak lambat karena keterbatasan tim syariah internal atau kurangnya SDM yang paham fikih muamalah.

Lalu, Dewan Pengawas Syariah (DPS) memang wajib ada di setiap perusahaan asuransi syariah. Tapi dalam praktiknya, keputusan-keputusan strategis soal produk, kadang masih terlalu “dibatasi” oleh pertimbangan syariat yang ketat. Akibatnya, inovasi jadi lambat banget.

6. Nilai Tunai Bisa Lebih Rendah dibanding Konvensional

Kalau kamu ambil asuransi jiwa unit link syariah dan berharap dapat nilai tunai yang besar di masa depan, kamu harus tahu bahwa potongannya bisa cukup besar di awal. Dan karena prinsip tabarru’ tersebut, sebagian dana Anda akan masuk ke dana kolektif, bukan dana pribadi.

Kalau dibandingkan sama asuransi konvensional yang lebih agresif dari sisi investasi, hasil akhirnya bisa kelihatan lebih rendah. Jadi, kalau orientasi kamu adalah pengembalian dana maksimal asuransi syariah bukan opsi yang tepat.

7. Kompleksitas Istilah dan Konsep

Buat sebagian orang awam, istilah-istilah yang dipakai dalam asuransi syariah seperti akad Tabarru’, Wakalah bil Ujrah, Mudharabah, Qardh, mungkin kedengeran lebih ‘asing’ dan butuh usaha ekstra buat dipahami dibanding istilah premi, polis, atau bunga di konvensional. Meskipun perusahaan asuransi pasti berusaha menjelaskan, tetap aja ada potensi kebingungan di awal.

Pemahaman yang kurang mendalam ini kadang bisa jadi hambatan buat bener-bener ngerti hak dan kewajiban sebagai peserta. Jadi, kalau milih syariah, pastiin kamu luangin waktu buat bener-bener paham akad dan cara kerjanya ya.

Baca Juga: 7 Cara Melacak Kartu ATM yang Hilang

Source: Unsplash

Jadi, Pilih yang Mana?

Nah, setelah baca poin-poin tadi, jangan langsung mikir, “Wah, asuransi syariah banyak kurangnya ya?” Bukan gitu, temen-temen. Poin penting yang mau mimin sampaikan adalah, setiap pilihan itu ada plus minusnya. 

Kekurangan asuransi syariah yang kita bahas tadi lebih ke arah perbedaan karakteristik atau konsekuensi dari penerapan prinsip syariah itu sendiri, yang bisa jadi ‘kurang’ buat sebagian orang dengan prioritas tertentu.

Buat banyak orang lain, justru prinsip kehati-hatian dalam investasi, transparansi pengelolaan dana, dan semangat tolong-menolong itu jadi keunggulan utama yang nggak ternilai harganya. Kalau prioritas kamu adalah ketenangan batin karena sesuai syariat dan ikut dalam sistem gotong royong, asuransi syariah itu pilihan yang sangat tepat.

Intinya, kenali kebutuhanmu, pahami prioritasmu, pelajari kedua pilihan (syariah dan konvensional) secara objektif, baru deh ambil keputusan. Jangan ragu buat nanya sedetail mungkin ke agen asuransi atau konsultan keuangan ya!

Semoga bahasan kita kali ini bermanfaat buat temen-temen dalam memilih asuransi terbaik sesuai kebutuhanmu! Ada pendapat lain? Share di komentar yuk!