Perbedaan reksadana dan obligasi – Temen-temen, mungkin kalian sudah sering dengar dengan dua istilah ini, reksadana dan obligasi.

Keduanya sama-sama instrumen investasi yang cukup populer, apalagi buat pemula. Tapi sebenarnya, keduanya beda banget dari sisi bentuk, risiko, cara kerja, sampai potensi keuntungannya.

Nah, mimin bakal bahas satu-satu, biar kamu bisa lebih paham dan bisa milih yang paling cocok buat profil kamu.

Baca Juga: Suspensi Saham Berapa Lama? Berikut Penjelasannya

Keuntungan dan Kerugian Masing-Masing

Source: Unsplash

Obligasi cocok buat kamu yang suka kepastian. Kupon dibayar rutin, dan pokok investasi kembali saat jatuh tempo. Tapi, jangan harap dapat keuntungan besar seperti saham. Selain itu, obligasi kurang fleksibel, dan jika temen-temen memerlukan dana cepat sebelum jatuh tempo, harganya bisa turun ketika dijual di pasar sekunder.

Reksadana menawarkan diversifikasi otomatis. Dana kamu tersebar ke banyak instrumen, jadi risikonya lebih terkendali. Plus, bisa diakses via aplikasi online tanpa ribet. Tapi, hati-hati dengan biaya pengelolaan (management fee) yang bisa menggerus keuntungan.

Apa Itu Reksadana?

Reksadana itu adalah wadah investasi kolektif, di mana dana kamu dikumpulkan bareng dana investor lain, lalu dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Dana tersebut bisa dialokasikan ke berbagai instrumen, seperti saham, obligasi, atau deposito, tergantung jenis reksadana yang kamu pilih.

Misalnya kamu beli Reksadana Pendapatan Tetap, berarti sebagian besar dana akan ditempatkan di obligasi. Tapi kamu sendiri nggak pegang obligasinya langsung, melainkan pegang unit penyertaan dari reksadana tersebut.

Jadi kalau ditanya, “apakah reksadana itu investasi langsung?” Jawabannya, nggak. Kamu hanya ikut nitip dana yang dikelola oleh penyelenggara reksadana secara profesional.

Apa Itu Obligasi?

Sementara obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan atau pemerintah. Saat kamu beli obligasi, artinya kamu lagi minjemin uang ke penerbit obligasi, dan sebagai imbalannya kamu bakal dapet kupon bunga secara rutin dan pokoknya dibalikin saat jatuh tempo.

Jadi kamu berperan kayak kreditor. Misalnya, kamu beli Obligasi Negara Ritel (ORI) senilai Rp1 juta, kamu bakal dapet bunga (kupon) tetap tiap bulan, sampai waktunya obligasi itu jatuh tempo. Keuntungannya lebih stabil, cocok buat kamu yang pengen pendapatan tetap dari hasil investasi dengan resiko yang rendah.

Perbedaan Reksadana dan Obligasi secara Dasar

Perbedaan reksadana dan obligasi – Reksadana dan obligasi adalah dua instrumen investasi yang sering kali menjadi pilihan bagi pemula maupun investor berpengalaman.

Meskipun keduanya sama-sama tergolong investasi dengan risiko rendah, ada perbedaan mendasar yang perlu kamu pahami sebelum memutuskan mana yang lebih cocok untuk kebutuhan finansialmu. Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Sumber Pendapatan

Reksadana menghasilkan pendapatan dari portofolio investasi yang dikelola oleh manajer investasi. Pendapatan ini bisa berasal dari berbagai instrumen seperti saham, obligasi, atau deposito tergantung jenis reksadana yang dipilih. 

Sebaliknya, obligasi memberikan pendapatan berupa bunga atau kupon tetap yang dibayarkan secara berkala oleh penerbit obligasi, baik itu pemerintah maupun perusahaan.

2. Pengelolaan Dana

Reksadana dikelola sepenuhnya oleh manajer investasi. Kamu tinggal menyerahkan dana dan mereka yang akan mengelola portofolio investasinya. Ini cocok buat kamu yang nggak punya waktu atau pengetahuan untuk memilih instrumen sendiri. 

Sedangkan pada obligasi, kamu bertindak sebagai investor mandiri. Kamu harus memilih sendiri surat utang yang ingin dibeli dan memantau kinerja penerbitnya. Jadi, obligasi membutuhkan keterlibatan lebih aktif dari investor.

3. Nominal Investasi Awal

Investasi reksadana jauh lebih terjangkau dibandingkan obligasi. Kamu bisa mulai investasi reksadana dengan modal sangat minim, bahkan hanya Rp10.000 saja. 

Sementara itu, obligasi biasanya membutuhkan modal awal yang lebih besar, misalnya Rp1 juta untuk obligasi ritel seperti SBR (Savings Bond Ritel) atau minimal Rp1 miliar untuk obligasi korporasi.

4. Risiko Investasi

Risiko pada reksadana bergantung pada jenisnya. Misalnya, reksadana pasar uang memiliki risiko rendah, sedangkan reksadana saham memiliki risiko tinggi karena fluktuasi pasar. Di sisi lain, risiko obligasi sangat bergantung pada kredibilitas penerbitnya. 

Obligasi pemerintah cenderung lebih aman dibandingkan obligasi korporasi karena dijamin oleh negara. Namun, ada risiko gagal bayar jika penerbit tidak mampu memenuhi kewajibannya.

5. Likuiditas

Reksadana memiliki likuiditas tinggi karena bisa dicairkan kapan saja dengan proses pencairan biasanya memakan waktu 3-5 hari kerja. 

Sebaliknya, obligasi cenderung kurang likuid terutama jika dijual di pasar sekunder. Proses pencairan obligasi bisa memakan waktu lebih lama dan harganya bisa turun jika suku bunga pasar meningkat.

6. Pajak dan Biaya

Perbedaan reksadana dan obligasi – Keuntungan dari investasi reksadana bebas pajak di Indonesia, tetapi ada biaya pengelolaan seperti management fee yang harus kamu bayar kepada manajer investasi. 

Sedangkan pada obligasi, imbal hasil dikenakan pajak penghasilan sebesar 10% untuk investor domestik.

7. Waktu Pembelian

Perbedaan reksadana dan obligasi – Reksadana fleksibel dalam hal waktu pembelian, kamu bisa membelinya kapan saja melalui agen penjual seperti bank atau perusahaan sekuritas. 

Berbeda dengan obligasi yang hanya dapat dibeli pada masa penawaran tertentu. Setelah masa penawaran berakhir, kamu hanya bisa membelinya di pasar sekunder dengan harga yang mungkin berbeda dari harga awal.

8. Fluktuasi Harga

Harga reksadana dinyatakan dalam Nilai Aktiva Bersih (NAB) yang dihitung setiap hari oleh manajer investasi berdasarkan kinerja portofolio investasi. 

Sementara itu, harga obligasi biasanya dinyatakan dalam persentase dari nilai nominalnya dan dapat berfluktuasi tergantung pada tingkat suku bunga pasar serta kondisi ekonomi.

9. Agen Penjualan

Perbedaan reksadana dan obligasi – Reksadana dijual melalui agen penjual resmi seperti bank atau perusahaan sekuritas yang ditunjuk oleh manajer investasi. 

Sedangkan obligasi dapat dibeli langsung dari penerbit surat utang atau melalui perantara seperti lembaga sekuritas terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kapan Harus Pilih Reksadana atau Obligasi?

Source: Unsplash

Reksadana: Cocok untuk pemula, ingin diversifikasi, dan punya tujuan jangka menengah (3-5 tahun). Contohnya nabung buat DP rumah.

Obligasi: Pas buat yang butuh pendapatan tetap bulanan/tahunan dan siap lock dana sampai jatuh tempo. Misalnya pensiunan yang perlu cash flow stabil.

Tips dari mimin: Kalau masih ragu, kombinasikan keduanya! Alokasi 60% reksadana campuran + 40% obligasi pemerintah bisa jadi strategi moderat untuk balance antara risiko dan return.

Sebelum mengambil keputusan akhir, pastikan untuk melakukan riset mendalam tentang produk-produk yang tersedia di pasar serta berkonsultasilah dengan penasihat keuangan jika perlu.

Baca Juga: 10 Macam Macam Chart Pattern dalam Trading

Kesimpulan

Perbedaan reksadana dan obligasi – Baik reksadana maupun obligasi punya keunggulan masing-masing. Kalau kamu tipe hands-off investor, reksadana mungkin lebih cocok. Tapi kalau suka kontrol penuh dan mau pendapatan tetap, obligasi bisa jadi pilihan. Yang penting, sesuaikan dengan profil resiko dan tujuan investasimu.

Oh ya satu lagi, jangan lupa cek track record penerbit obligasi atau performa reksadana sebelum investasi. 

Kalau masih bingung terkait perbedaan reksadana dan obligasi, tanya aja ke mimin di kolom komentar. Happy investing, temen-temen!