Cara Hitung Harga Wajar Saham – Banyak investor pemula bertanya-tanya, gimana sih caranya tahu kalau harga saham itu murah atau mahal? Padahal, pertanyaan ini fundamental banget sebelum kamu mantap beli atau jual saham.
Tanpa hitung harga wajar, kamu bisa beli saham di harga overvalued dan nyangkut bertahun-tahun, atau malah lewatkan saham bagus karena dianggap mahal padahal masih di bawah nilai wajarnya.
Yuk, di artikel ini Mimin bakal jawab 4 pertanyaan paling penting tentang cara hitung harga wajar saham dengan metode dan contoh konkret.
Apakah Saham Bisa Dihitung Harga Wajarnya?
Bisa banget. Harga wajar saham (fair value) adalah perkiraan harga yang mencerminkan nilai sebenarnya perusahaan berdasarkan kinerja keuangan dan proyeksi masa depan. Berbeda dengan harga pasar yang berfluktuasi mengikuti sentimen, harga wajar dihitung dari data fundamental perusahaan.
Hitung harga wajar saham bukan ilmu pasti, tapi pendekatan yang valid dipakai investor besar dunia seperti Warren Buffett dan Peter Lynch. Indonesia juga punya legenda value investing seperti Lo Kheng Hong yang konsisten pakai analisis fundamental untuk pilih saham.
Yang penting kamu paham, harga wajar bukan angka tunggal yang baku. Setiap analis bisa hitung berbeda tergantung asumsi yang dipakai. Yang dicari adalah kisaran wajar untuk dibandingkan dengan harga pasar saat ini.
Bagaimana Cara Hitung Harga Wajar Saham dengan Metode PER?
PER (Price to Earning Ratio) adalah metode paling populer dan paling simpel untuk hitung harga wajar. Rumusnya sangat sederhana:
PER = Harga Saham / Earning Per Share (EPS)
Atau untuk hitung harga wajar:
Harga Wajar = EPS × PER Wajar
Cara Pakai PER Step-by-Step
Step 1: Cari EPS (Earning Per Share) dari laporan keuangan terbaru perusahaan. Bisa dilihat di IDX, RTI Business, atau aplikasi seperti Stockbit dan IPOT.
Step 2: Tentukan PER Wajar untuk industri tersebut. Cara paling umum: hitung rata-rata PER kompetitor sejenis (peer group). Misal sektor perbankan rata-rata PER 12-15x, sektor consumer goods 20-25x.
Step 3: Kalikan EPS dengan PER Wajar untuk dapat harga wajar.
Contoh Perhitungan PER
Mimin kasih contoh real. Saham BBRI (Bank Rakyat Indonesia):
- EPS terakhir: Rp350
- PER rata-rata sektor perbankan: 12x
- Harga Wajar = Rp350 × 12 = Rp4.200
Kalau harga BBRI di pasar saat ini Rp3.800, berarti undervalued sekitar 10%. Saham ini bisa dipertimbangkan untuk dibeli (subject to faktor lain).
Sebaliknya, kalau harga pasar sudah Rp5.000, berarti overvalued dan mungkin lebih baik tunggu koreksi.
Berapa Persen PER yang Dianggap Wajar?
Tidak ada angka pasti, tapi ada benchmark umum yang bisa kamu pakai sebagai panduan:
Benchmark PER per Sektor di IDX
Berdasarkan rata-rata historis pasar saham Indonesia:
- Perbankan: 10-15x (BBCA, BBRI, BMRI)
- Consumer Goods: 18-25x (UNVR, ICBP, INDF)
- Telekomunikasi: 12-18x (TLKM, ISAT)
- Pertambangan: 8-12x (ADRO, PTBA, ANTM)
- Properti: 10-15x (BSDE, CTRA, SMRA)
- Teknologi: 25-50x (GOTO, BUKA, EMTK)
PER di atas range ini biasanya overvalued, di bawah range mungkin undervalued.
Apa Itu PER yang Terlalu Rendah atau Tinggi?
PER < 5x: Bisa berarti saham super murah, tapi waspadalah. Kadang ini sinyal ada masalah serius (perusahaan bermasalah, sektor sedang struggle, dll). Cek fundamental dulu.
PER 5-10x: Umumnya value zone — saham yang murah dengan fundamental cukup bagus.
PER 10-20x: Range wajar untuk kebanyakan saham bluechip Indonesia.
PER 20-30x: Mulai mahal, perusahaan harus punya growth tinggi untuk justify valuasi ini.
PER > 30x: Saham growth atau speculation. Cocok untuk investor yang siap risiko tinggi.
Yang paling penting: bandingkan dengan peer group, bukan absolute number. PER 50x untuk emiten teknologi mungkin wajar, tapi untuk emiten consumer goods bisa kemahalan.
Bagaimana Cara Hitung dengan Metode Lain Selain PER?
PER bukan satu-satunya cara. Ada beberapa metode lain yang bisa kamu kombinasikan untuk dapat gambaran lebih akurat:
1. Metode PBV (Price to Book Value)
Cocok untuk emiten asset-heavy seperti perbankan dan properti. Rumusnya:
PBV = Harga Saham / Book Value per Share Harga Wajar = Book Value per Share × PBV Wajar
Contoh BBRI: – Book Value per Share: Rp2.500 – PBV rata-rata bank besar: 1.8x – Harga Wajar PBV = Rp2.500 × 1.8 = Rp4.500
PBV < 1 berarti saham dijual lebih murah dari nilai aset bersihnya — biasa value zone untuk emiten bluechip.
2. Metode PEG (Price to Earning Growth)
Cocok untuk saham growth dengan pertumbuhan laba tinggi. Rumusnya:
PEG = PER / Growth Rate (%)
Interpretasi: – PEG < 1: Saham undervalued (PER masuk akal dibanding pertumbuhan) – PEG ≈ 1: Wajar – PEG > 1: Mungkin overvalued
Contoh saham GOTO (hipotesis): – PER: 30x – Estimasi growth: 25% per tahun – PEG = 30 / 25 = 1.2 -> sedikit overvalued
PEG paling powerful untuk saham yang growth tinggi dan PER-nya kelihatan mahal di metode tradisional.
3. Metode DCF (Discounted Cash Flow)
Metode paling kompleks tapi paling akurat untuk valuasi jangka panjang. Konsepnya: hitung total cash flow yang akan dihasilkan perusahaan di masa depan, lalu di-discount ke nilai sekarang.
DCF butuh data: – Free Cash Flow proyeksi 5-10 tahun ke depan – Terminal value – Discount rate (biasanya WACC perusahaan)
Karena kompleks, DCF biasanya dipakai analis profesional. Untuk pemula, mulai dari PER dan PBV dulu lebih praktis.
4. Metode Dividend Discount Model (DDM)
Cocok untuk saham high-dividend seperti UNVR, BBRI, atau ASII. Rumusnya:
Harga Wajar = Dividen per Share / (Cost of Equity – Growth Rate Dividen)
Contoh BBRI: – Dividen per Share: Rp250 – Cost of Equity: 12% – Growth Rate Dividen: 5% – Harga Wajar = Rp250 / (0.12 – 0.05) = Rp3.571
DDM cocok untuk emiten yang konsisten bagi dividen besar dan stabil.
Contoh Kasus dan Perhitungan Lengkap
Biar lebih jelas, Mimin kasih contoh hitung harga wajar saham populer.
Kasus: Saham UNVR (Unilever Indonesia)
Data yang dipakai (per Mei 2026):
- EPS terakhir: Rp140
- Book Value per Share: Rp250
- Dividen per Share: Rp130
- PER rata-rata consumer goods: 22x
- PBV rata-rata consumer goods: 4x
- Cost of Equity: 11%
- Growth Rate Dividen: 4%
Metode 1 – PER: Harga Wajar = Rp140 × 22 = Rp3.080
Metode 2 – PBV: Harga Wajar = Rp250 × 4 = Rp1.000 (PBV terlalu konservatif untuk consumer goods)
Metode 3 – DDM: Harga Wajar = Rp130 / (0.11 – 0.04) = Rp1.857
Range Harga Wajar UNVR: Rp1.857 – Rp3.080 (rata-rata sekitar Rp2.300-Rp2.500)
Kalau harga pasar UNVR saat ini di kisaran Rp2.000, berarti undervalued dan layak dipertimbangkan.
Catatan: Angka di atas hipotesis untuk demo. Cek data terbaru di IDX atau Stockbit sebelum keputusan riil.
Kesimpulan
Sekarang kamu sudah tahu cara hitung harga wajar saham dengan 4 metode utama: PER, PBV, PEG, dan DDM. Setiap metode punya kelebihan dan cocok untuk jenis emiten berbeda.
Untuk pemula, mulai dari PER dan PBV dulu karena paling mudah. Setelah comfortable, kombinasikan dengan PEG (untuk growth) atau DDM (untuk dividend stocks). DCF cocok untuk yang sudah advanced.
Mimin saranin selalu hitung harga wajar dengan minimal 2-3 metode untuk dapat range. Pakai margin of safety 20-30% sebelum putuskan beli.
Selalu kombinasikan dengan analisa kualitatif: kekuatan brand, kompetensi manajemen, prospek industri, dan moat ekonomi perusahaan. Hitung harga wajar yang baik plus pemahaman bisnis yang dalam = kombinasi mematikan untuk investor jangka panjang.



