Istilah saham bisa bikin pusing pemula yang baru masuk pasar modal. Dari bid, ask, lot, haka, emiten, sampai cum date, kosakata-nya banyak banget dan kadang bahasanya teknis.

Padahal kalau kamu paham istilah-istilah ini, baca berita pasar saham, analisa fundamental, atau diskusi di forum jadi jauh lebih masuk akal. Ibarat belajar bahasa asing, sekali paham vocabulary dasar, sisanya tinggal practice.

Yuk Mimin breakdown 20+ istilah saham paling penting yang wajib kamu kenali. Berikut listnya satu per satu.

1. Bid (Harga Beli)

Bid adalah harga tertinggi yang bersedia dibayar pembeli untuk membeli saham tertentu. Di order book aplikasi sekuritas, kolom Bid menampilkan antrian pembeli dengan harga dari tertinggi ke terendah.

Misal: kamu lihat saham BBRI ada Bid Rp4.500 dengan volume 100 lot. Artinya ada pembeli yang siap beli di harga Rp4.500 untuk 10.000 lembar saham (1 lot = 100 lembar).

Bid bisa juga jadi indikator demand. Bid yang tebal di harga support menunjukkan banyak buyer yang antri.

2. Ask / Offer (Harga Jual)

Ask atau Offer adalah harga terendah yang bersedia dijual penjual. Kebalikan dari Bid. Kalau Bid antrian dari atas ke bawah (tinggi ke rendah), Ask antrian dari bawah ke atas (rendah ke tinggi).

Selisih antara Bid tertinggi dan Ask terendah disebut spread. Spread sempit = saham likuid, spread lebar = saham kurang likuid.

3. Lot

Lot adalah unit standar perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). 1 lot = 100 lembar saham.

Sebelum 2014, 1 lot di BEI = 500 lembar. Setelah aturan diubah, jadi 100 lembar untuk lebih ramah investor ritel. Contoh: kalau harga saham BBRI Rp4.500, modal minimum beli 1 lot = Rp4.500 × 100 = Rp450.000 (belum termasuk fee broker).

4. Haka (Hajar Kanan) & Hake (Hajar Kiri)

Haka singkatan dari “Hajar Kanan”, istilah informal Indonesia untuk Market Buy. Artinya kamu langsung beli di harga Ask tertinggi tanpa antri di Bid.

Hake kebalikannya, “Hajar Kiri” atau Market Sell. Kamu jual langsung di Bid tertinggi tanpa antri di Ask.

Haka biasanya dipakai trader saat saham sedang trending dan takut ketinggalan momentum. Tapi hati-hati, haka di saham nggak likuid bisa kena harga jelek.

5. Emiten

Emiten adalah perusahaan yang sudah listing di Bursa Efek (go public) dan mengeluarkan saham untuk dijual ke publik. Jadi setiap kali kamu dengar “emiten BBRI” atau “emiten teknologi”, artinya perusahaan publik tersebut.

Total ada 800+ emiten di BEI saat ini. Setiap emiten punya kode 4 huruf (misal: BBCA = Bank Central Asia, TLKM = Telkom Indonesia).

6. IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan)

IHSG adalah indeks yang mengukur rata-rata pergerakan harga seluruh saham yang listing di BEI. Indeks ini jadi indikator utama performa pasar saham Indonesia.

Kalau IHSG naik 1%, artinya secara umum pasar saham Indonesia naik 1% (rata-rata semua emiten). IHSG biasanya jadi benchmark untuk evaluasi kinerja portofolio kamu.

7. Capital Gain

Capital Gain adalah keuntungan dari selisih harga jual dikurangi harga beli saham. Contoh: kamu beli BBRI di Rp4.000 dan jual di Rp4.500. Capital Gain kamu = Rp500 per lembar.

Capital Gain di saham Indonesia tidak dikenakan pajak khusus (hanya pajak final 0.1% saat transaksi jual). Ini salah satu keunggulan investasi saham dibanding instrument lain.

8. Dividen

Dividen adalah pembagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham. Biasanya dibagikan setahun sekali (final dividend) atau setahun beberapa kali (interim dividend).

Tidak semua emiten bagi dividen. Yang konsisten bagi dividen biasanya emiten mature dengan cash flow stabil seperti BBCA, BBRI, UNVR, ASII, atau TLKM.

9. Cum Date & Ex Date

Cum Date (Cumulative Date) adalah tanggal terakhir kamu harus pegang saham untuk berhak dapat dividen. Beli saham di hari Cum Date masih dapat dividen.

Ex Date (Ex-Dividend Date) adalah hari setelah Cum Date. Beli saham di Ex Date atau setelahnya tidak dapat dividen. Biasanya harga saham koreksi sebesar nilai dividen di Ex Date.

10. Auto Reject

Auto Reject adalah mekanisme BEI untuk membatasi pergerakan harga saham harian. Kalau saham naik atau turun di luar batas tertentu, sistem otomatis menolak order.

Batasan Auto Reject di BEI: – ARA (Auto Reject Atas): Saham harga Rp50-200 = +35%, Rp200-5.000 = +25%, di atas Rp5.000 = +20% – ARB (Auto Reject Bawah): -7% untuk semua harga

Saham yang ARA sering disebut “saham gocap nyangkut” kalau harganya stuck di Rp50.

11. Suspensi

Suspensi adalah pemberhentian sementara perdagangan saham oleh BEI. Penyebabnya bisa beragam: pelanggaran aturan, info material yang belum diungkap, harga yang anomali, atau permintaan emiten sendiri.

Saham yang disuspensi tidak bisa diperjual-belikan sampai BEI buka kembali. Lama suspensi bervariasi, dari beberapa jam sampai berbulan-bulan.

12. Delisting

Delisting adalah penghapusan saham dari Bursa Efek. Bisa karena emiten bangkrut, sukarela go private, atau dipaksa BEI karena tidak memenuhi syarat listing.

Kalau saham yang kamu pegang delisting, kamu masih punya kepemilikan saham, tapi tidak bisa diperdagangkan di pasar reguler. Recovery kerugian dari delisting biasanya sangat sulit.

13. Right Issue (HMETD)

Right Issue atau Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) adalah aksi korporasi di mana emiten menerbitkan saham baru yang ditawarkan ke pemegang saham eksisting dengan harga diskon.

Kamu sebagai pemegang saham lama dapat rights untuk beli saham baru di harga lebih murah. Bisa juga menjual rights tersebut di pasar.

14. Stock Split & Reverse Stock Split

Stock Split adalah pemecahan nilai nominal saham. Misal: saham harga Rp10.000 di-split 1:5 jadi 5 lembar dengan harga Rp2.000 per lembar. Total kepemilikan kamu nggak berubah, hanya jumlah lembarnya bertambah.

Reverse Stock Split kebalikannya: 5 lembar saham digabung jadi 1 lembar. Biasanya dilakukan untuk meningkatkan harga saham yang terlalu murah (di zona gocap).

15. PER (Price to Earning Ratio)

PER adalah rasio yang menunjukkan berapa kali laba yang investor bayar untuk satu lembar saham. Rumusnya: Harga Saham / EPS (Earning Per Share).

PER 10x artinya investor bayar 10x laba bersih perusahaan untuk dapat 1 saham. PER rendah biasanya value (murah), PER tinggi biasanya growth atau overvalued.

16. PBV (Price to Book Value)

PBV menunjukkan berapa kali nilai buku yang dibayar untuk satu saham. Rumusnya: Harga Saham / Book Value per Share.

PBV < 1 artinya saham dijual lebih murah dari nilai aset bersihnya. Untuk emiten asset-heavy seperti perbankan dan properti, PBV jadi metrik penting.

17. Dividend Yield

Dividend Yield adalah persentase dividen yang dibagikan terhadap harga saham. Rumusnya: Dividen per Share / Harga Saham × 100%.

Saham dengan Dividend Yield 5%+ sering disebut dividend stock. Cocok untuk investor yang cari passive income, bukan growth.

18. Bluechip

Bluechip adalah saham emiten besar dan stabil dengan kapitalisasi pasar tinggi, fundamental kuat, dan track record konsisten. Contoh bluechip Indonesia: BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ASII, UNVR.

Bluechip biasanya volatilitas-nya lebih rendah dibanding saham second liner atau gorengan. Cocok untuk investasi jangka panjang dan pemula.

19. Saham Gorengan

Saham gorengan adalah saham yang harganya digerakkan secara tidak wajar oleh “bandar” atau spekulator. Biasanya saham kapitalisasi kecil dengan fundamental lemah, harganya bisa naik atau turun ratusan persen tanpa alasan fundamental yang jelas.

Risiko saham gorengan sangat tinggi. Banyak retail investor yang nyangkut karena terlambat keluar setelah bandar lepas.

20. Cut Loss & Take Profit

Cut Loss adalah aksi menjual saham di harga rugi untuk membatasi kerugian lebih besar. Biasanya trader pasang stop loss otomatis di -5% sampai -10% dari harga beli.

Take Profit kebalikannya: menjual saham di harga untung untuk realisasi profit. Bisa fixed (misal +20%) atau pakai trailing stop.

Disiplin cut loss dan take profit adalah kunci survive di trading saham.

21. DCA (Dollar Cost Averaging)

DCA adalah strategi investasi dengan menyetor jumlah tetap secara rutin (misal setiap bulan) tanpa peduli harga sedang naik atau turun. Tujuannya menurunkan dampak volatilitas terhadap harga rata-rata pembelian.

Strategi ini cocok untuk investor jangka panjang yang nggak punya waktu time the market. Cukup disiplin setor rutin lewat fitur Auto-Invest.

22. Margin of Safety

Margin of Safety adalah konsep value investing dari Benjamin Graham. Artinya: beli saham di harga jauh di bawah harga wajarnya untuk lindungi diri dari kesalahan analisa.

Standar yang dipakai value investor seperti Lo Kheng Hong: minimum 30-50% margin of safety. Kalau hitung harga wajar Rp1.000, beli di Rp500-Rp700 untuk menjaga safety net.

Kesimpulan

Sekarang kamu sudah kenal 22+ istilah saham paling penting yang akan sering kamu temui. Dari Bid, Ask, Lot, Haka, sampai konsep advanced seperti Margin of Safety dan DCA, semua udah Mimin breakdown.

Jangan paksakan menghafal semuanya sekaligus. Pelajari pelan-pelan sambil aktif trading atau invest dengan modal kecil. Setiap kali ketemu istilah baru, sempatkan baca sebentar.

Mimin saranin bookmark artikel ini sebagai referensi cepat. Kalau ada istilah yang lupa, tinggal scroll cari. Yang paling penting: jangan investasi atau trading saham yang kamu nggak paham mekanismenya. Better stick dengan yang udah dikuasai daripada FOMO ke instrument yang asing.