Cara Menghitung Nilai Intrinsik Saham – Kalau kamu sudah mulai serius mempelajari investasi saham, cepat atau lambat kamu akan bertemu istilah nilai intrinsik saham.

Di dunia investasi, terutama untuk kamu yang ingin menerapkan gaya value investing, menghitung nilai intrinsik saham adalah fondasi penting.

Bahkan investor besar seperti Warren Buffett dan Lo Kheng Hong selalu menjadikan nilai intrinsik sebagai patokan utama sebelum membeli sebuah saham. Tapi di sisi lain, banyak orang merasa cara menghitung nilai intrinsik saham itu rumit dan penuh rumus.

Baca Juga: Tutorial! Cara Baca Laporan Keuangan Saham dengan Mudah

Nah, di sini Mimin bakal bantu kamu memahami konsepnya secara santai, jelas, dan mudah diterapkan.

Apa Itu Nilai Intrinsik Saham?

Supaya kamu tidak bingung dari awal, mari kita mulai dari pengertiannya dulu.

Nilai intrinsik saham adalah nilai wajar suatu saham berdasarkan kondisi fundamental perusahaan, bukan harga pasar yang terlihat di layar trading.

Harga bisa naik-turun setiap detik karena emosi pasar. Tapi nilai intrinsik lebih stabil, karena dihitung dari hal-hal seperti:

  • laba perusahaan,
  • arus kas,
  • nilai aset,
  • kualitas manajemen,
  • prospek pertumbuhan bisnis,
  • risiko industri.

Jadi, nilai intrinsik ini seperti “harga asli” sebuah perusahaan. Kamu bisa menganggapnya seperti harga rumah hasil appraisal, bukan harga yang sedang ramai di iklan.

Kalau harga pasar lebih rendah dari nilai intrinsik artinya kamu sedang melihat saham undervalued. Kalau harga pasar lebih tinggi dari nilai intrinsik artinya saham itu overvalued.

Investor cerdas selalu berburu yang undervalued, bukan yang sedang hype.

Kenapa Nilai Intrinsik Penting Buat Investor?

Cara Menghitung Nilai Intrinsik Saham – Masalah umum yang sering terjadi adalah investor cuma melihat grafik atau mendengar rumor, lalu ikut membeli saham. Ini berbahaya, karena kamu tidak tahu apakah harga itu pantas atau tidak.

Dengan memahami nilai intrinsik, kamu bisa:

  • tahu kapan saham sedang murah,
  • tahu kapan harus menahan diri meskipun saham sedang viral,
  • mengambil keputusan berdasarkan data, bukan perasaan,
  • membangun portofolio jangka panjang yang sehat.
Cara Menghitung Nilai Intrinsik Saham
Source: Unsplash

Metode Cara Menghitung Nilai Intrinsik Saham

Cara Menghitung Nilai Intrinsik Saham – Sekarang kita masuk bagian perhitungan. Mimin jelaskan langkah demi langkah secara detail. Ada beberapa metode populer yang bisa kamu gunakan.

1. Metode Discounted Cash Flow (DCF)

Ini metode paling populer dan paling sering dipakai investor profesional. Konsepnya sederhana:

nilai perusahaan = nilai semua arus kas masa depan yang didiskon ke nilai saat ini.

Langkah-langkahnya:

a. Proyeksikan arus kas masa depan (5 hingga 10 tahun)

Misalnya:

Tahun ini perusahaan menghasilkan Rp 1 triliun cash flow.

Kamu proyeksikan naik 8% tiap tahun.

Ini bikin kamu memikirkan masa depan perusahaan, bukan hanya laporan keuangan terakhir.

b. Tentukan discount rate (biasanya WACC atau 10-15%)

Discount rate menggambarkan risiko dan biaya modal.

c. Hitung nilai sekarang dari semua arus kas

Rumus nilai intrinsik saham untuk diskon:

DCF = Cash Flow / (1 + r)^n

dimana:

r = discount rate

n = tahun ke-n

d. Tambahkan terminal value

Terminal value = nilai perusahaan setelah tahun ke-10.

e. Total semua nilai maka itulah nilai intrinsik

Contoh Perhitungan:

Misal setelah dihitung, total nilai perusahaan = Rp 50 triliun.

Jumlah saham beredar = 10 miliar lembar.

Maka nilai intrinsik per lembar:

Rp 50 triliun / 10 miliar = Rp 5.000 per saham.

Kalau harga pasar cuma Rp 3.000 maka saham undervalued 40%.

2. Metode Price to Book Value (PBV)

Metode ini lebih sederhana, cocok untuk pemula atau perusahaan berbasis aset besar.

PBV = Harga saham / Nilai buku per saham

Jika PBV di bawah 1 maka saham dianggap murah dibanding nilai asetnya.

Contoh:

Nilai buku per saham = Rp 2.000

Harga saham = Rp 1.200

PBV = 0,6 maka artinya pasar menghargai perusahaan di bawah nilai asetnya. Metode ini sangat populer di sektor perbankan, konstruksi, dan properti.

3. Metode PER (Price to Earnings Ratio)

Kalau kamu butuh cara yang lebih simpel, kamu bisa pakai metode PER. Di sini kamu cukup tahu:

EPS (Earnings per Share)

PER industri atau perusahaan sejenis

Rumusnya:

Nilai Intrinsik = EPS × PER wajar

Misalnya, EPS perusahaan Rp100 dan PER wajar sektor tersebut 15, maka:

Nilai Intrinsik = Rp100 × 15 = Rp1.500

Kalau harga saham saat ini Rp1.200, artinya sahamnya undervalued. Tapi kalau udah Rp2.000? Bisa jadi overvalued, tergantung asumsi PER-nya.

4. Metode Dividend Discount Model (DDM)

Cocok untuk perusahaan yang rutin membagikan dividen seperti (UNVR, BBRI, dll).

Rumus nilai intrinsik saham (DDM):

Nilai Intrinsik = Dividen / (Required Return – Growth Rate)

Contoh:

Dividen = Rp 200 per saham

Required return = 10%

Growth rate = 5%

Nilai intrinsik = 200 / (0.1 – 0.05) = Rp 4.000

Kalau harga pasar di bawah itu maka tergolong saham undervalued.

Tips Praktis

Beberapa hal yang perlu kamu perhatikan sebelum mulai menghitung nilai intrinsik:

  • Pastikan datanya akurat. Gunakan data laporan keuangan audited, jangan cuma pakai dari media sosial atau forum.
  • Jangan terlalu optimis. Pakai asumsi konservatif biar hasilnya nggak terlalu bias.
  • Perhatikan sektor industri. Saham teknologi dan saham perbankan punya karakter valuasi berbeda.
  • Gunakan beberapa metode. Jangan bergantung pada satu rumus. Bandingkan hasil dari beberapa pendekatan untuk dapat gambaran lebih objektif.
Cara Menghitung Nilai Intrinsik Saham
Source: Unsplash

Kapan Waktu Tepat Membeli Saham Berdasarkan Nilai Intrinsik?

Kalau nilai intrinsik suatu saham lebih tinggi dari harga pasar, misal nilai intrinsik Rp2.000 dan harga saat ini Rp1.500, berarti saham itu undervalued. Di situlah kamu bisa pertimbangkan untuk beli.

Tapi, kalau harga pasarnya Rp2.500? Ya… hati-hati. Bisa jadi overvalued, atau ekspektasi pasar terlalu tinggi.

Kamu juga nggak perlu beli langsung setelah tahu nilainya. Pantau terus. Kadang harga pasar bisa koreksi karena sentimen, dan itu justru jadi momen bagus untuk masuk.

Baca Juga: 10 Saham Termahal di Indonesia, Terupdate

Kesimpulan

Dengan mengetahui cara menghitung nilai intrinsik saham, kamu tidak akan mudah terjebak saham mahal hanya karena sedang dipromosikan. Kamu akan lebih percaya diri membuat keputusan karena didukung data dan analisis mendalam.

Ingat, tujuan investasi adalah mengelola risiko dan menghasilkan imbal hasil jangka panjang. 

Dengan tahu cara menghitung nilai intrinsik saham, kamu sudah satu langkah lebih cerdas dari mayoritas investor ritel yang cuma ikut arus.