Di dunia investasi saham, banyak yang fokus ke capital gain, beli di harga rendah, jual saat naik. Tapi jangan sampai kamu melewatkan satu aspek penting yang sering dianggap bonus padahal bisa jadi sumber penghasilan pasif yaitu dividen saham.
Dividen ini jadi daya tarik utama untuk investor yang ingin dapat income rutin tanpa perlu jual sahamnya.
Baca Juga: Apa itu Dividen Interim? Simak Penjelasan dan Contohnya
Nah, masalahnya, masih banyak yang bingung soal cara menghitung dividen saham. Apalagi kalau sudah ketemu istilah saham preferen dan saham biasa, tambah pusing lagi.
Di artikel ini, Mimin bakal bantu kamu pahami secara lengkap dan aplikatif.
Apa Itu Dividen Saham?
Dividen adalah pembagian laba perusahaan kepada para pemegang saham, sebagai bentuk apresiasi atas kepemilikan saham mereka.
Biasanya, dividen dibayarkan dalam bentuk tunai (dividen tunai), tapi ada juga yang dalam bentuk saham baru (dividen saham). Untuk kamu yang baru mulai investasi, istilah-istilah ini kadang bikin pusing, apalagi kalau belum pernah menerima dividen sebelumnya.
Perusahaan yang rutin membagikan dividen biasanya adalah perusahaan yang sudah mapan, dengan arus kas stabil. Tapi, ada juga perusahaan yang memilih menahan laba untuk ekspansi bisnis. Jadi, jangan heran kalau ada saham yang nggak pernah bagi dividen, meskipun kinerjanya bagus.
Cara Menghitung Dividen Saham Biasa

Dividen saham biasa dibagikan kepada semua pemegang saham biasa, dan besarannya bisa berubah tergantung laba bersih perusahaan serta keputusan RUPS. Berikut rumus sederhana yang umum dipakai:
Dividen per Saham (DPS) = Total Dividen Dibagikan / Jumlah Saham Beredar
Contoh Kasus 1
Misalnya PT Sinar Cemerlang membagikan total dividen sebesar Rp5 miliar, dan jumlah saham yang beredar adalah 100 juta lembar.
Maka:
DPS = Rp5.000.000.000 / 100.000.000 = Rp50 per saham.
Kalau kamu punya 10.000 lembar saham PT Sinar Cemerlang, maka dividen yang kamu terima adalah:
10.000 × Rp50 = Rp500.000
Tapi jangan lupa, dividen ini biasanya dikenakan pajak 10% (untuk individu domestik). Jadi jumlah bersih yang masuk rekening kamu akan jadi Rp450.000.
Itu sebabnya penting juga buat menghitung dividend yield untuk melihat seberapa menariknya return dari dividen itu dibanding harga saham.
Rumus: Dividend Yield = DPS / Harga Saham x 100%
Kalau saham PT Sinar Cemerlang tadi harganya Rp1.000:
Dividend Yield = 50 / 1.000 × 100% = 5%
Cara Menghitung Dividen Saham Preferen
Nah, beda cerita kalau kamu pegang saham preferen. Saham preferen biasanya punya hak istimewa, salah satunya prioritas dalam pembagian dividen.
Besaran dividen saham preferen biasanya sudah ditetapkan di awal, misal 8% per tahun dari nilai nominal saham.
Rumus Umum:
Dividen Preferen = Presentase Dividen × Nilai Nominal per Saham
Contoh:
Misalnya PT Mapan Sejahtera punya saham preferen yang memberikan 10% dividen per tahun dari nilai nominal Rp1.000 per saham. Maka setiap saham preferen akan menerima:
Dividen = 10% × Rp1.000 = Rp100 per saham preferen
Kalau kamu punya 5.000 lembar saham preferen, kamu bakal dapat dividen:
5.000 × Rp100 = Rp500.000
Yang menarik, kalau perusahaan nggak mampu bayar dividen tahun ini, ada jenis saham preferen yang dividen-nya ditunda tapi tidak hangus (disebut cumulative preferred stock).
Jadi, tahun depan, perusahaan wajib bayar dividen tertunggak dulu sebelum bagi ke saham biasa.
Studi Kasus: Simulasi Perhitungan Dividen Saham
Biar makin jelas, Mimin kasih simulasi. Misal, kamu punya 2.000 lembar saham PT DEF, DPS tahun ini Rp150, harga saham saat ini Rp2.500.
Total dividen kotor: 2.000 × Rp 150 = Rp 300.000
Pajak 10%: Rp 300.000 × 10 % = Rp 30.000
Dividen bersih: Rp 300.000 − Rp 30.000 = Rp 270.000
Dividend yield: 150/2.500 × 100 % = 6 %
Jadi, dividen bersih yang masuk ke rekening kamu adalah Rp270.000, dengan yield 6%. Cukup menarik, apalagi kalau sahamnya stabil dan perusahaan rutin bagi dividen.
Perbedaan Dividen Saham Biasa vs Preferen
Ini penting kamu pahami, supaya nggak salah hitung atau salah strategi investasi.
| Aspek | Saham Biasa | Saham Preferen |
| Hak dividen | Tidak tetap | Tetap (fixed rate) |
| Prioritas pembayaran | Setelah saham preferen | Sebelum saham biasa |
| Potensi capital gain | Lebih tinggi | Cenderung lebih stabil |
| Hak suara di RUPS | Ada | Tidak ada (biasanya) |
Jadi, kalau kamu tipe investor yang cari pendapatan stabil dari dividen, saham preferen bisa jadi opsi. Tapi kalau kamu ingin potensi pertumbuhan yang lebih tinggi, saham biasa biasanya lebih menarik.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Besaran Dividen

Perusahaan nggak asal bagi dividen, ya. Ada banyak pertimbangan sebelum manajemen memutuskan berapa dividen yang akan dibagikan. Beberapa faktor yang sering jadi penentu:
1. Laba Bersih
Semakin besar laba, biasanya semakin besar pula dividen. Tapi ini bukan jaminan mutlak.
2. Cash Flow
Perusahaan boleh untung besar, tapi kalau arus kas lagi seret, bisa saja nggak ada dividen.
3. Rencana Ekspansi
Kalau perusahaan mau ekspansi besar-besaran, mereka bisa tahan laba untuk investasi dulu.
4. Kebijakan Dividen Perusahaan
Ada perusahaan yang memang punya dividend policy konservatif. Misalnya hanya membagikan 30–50% dari laba bersih.
5. Utang dan Liabilitas
Perusahaan dengan beban utang tinggi biasanya akan lebih berhati-hati dalam membagikan dividen.
Baca Juga: Apa Itu Jurnal Pembagian Dividen? Definisi, Jenis & Cara Hitungnya
Kesimpulan
Sekarang kamu sudah tahu cara menghitung dividen saham, baik itu dividen saham biasa maupun dividen saham preferen. Perbedaan antara keduanya bukan cuma di besarannya, tapi juga di prioritas pembayarannya, hak pemilik, dan strategi investasinya.
Buat kamu yang baru mulai investasi, pahami dulu rumus dasar seperti DPS, dividend yield, dan payout ratio. Dari situ, kamu bisa evaluasi emiten mana yang cocok buat strategi keuanganmu.
Jangan cuma kejar angka dividen besar, tapi lihat juga keberlanjutan bisnisnya. Percuma dapat dividen besar tahun ini, kalau tahun depan perusahaannya rugi dan stop bagi dividen.
Semoga tutorial cara menghitung dividen saham ini bisa membantu kamu mengambil keputusan investasi yang lebih cerdas.



